Senin, 08 Desember 2014
sapu jagat tasikmalaya: Program Pengobatan
sapu jagat tasikmalaya: Program Pengobatan: kami melayani berbagai macam pengobatan medis dan non medis, bisa langsung datang ketempat atau kunjungan langsung ke tempat anda dimana pu...
Kamis, 04 Desember 2014
Fakta terbaru: Benarkah Hitler Islam?
Setelah mengulik di internet, saya pun
mendapatkan sisi yang lain dari seorang Hitler, yang mungkin selama ini
tidak banyak diketahui oleh orang. Karena sisi lain itu adalah beberapa
hal yang luput dari perhatian media. Atau memang sengaja di hilangkan
dari peredaran dengan tujuan tertentu, entahlah.
Untuk mempersingkat waktu, berikut saya sertakan sisi-sisi yang memperlihatkan kehidupan lain dari Hitler:
Kemampuan Rasulullah SAW dalam Google Earth
Rabu, 03 Desember 2014
Misteri Wangsit Siliwangi
Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi |
Menurut
beberapa babat carita sunda wangsit siliwangi adalah ucapan yang
mengandung pesan terakhir yang bermuatan patwa kehidupan di masa yang
akan datang yang di ucapkan oleh seorang raja Pajajaran yang terkenal
yaitu Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi bagi seluruh para abdinya dan
rakyatnya yang mana saat mengucapkan pesan keadaan mereka sedang dalam
perjalanan menghindari pasukan Cirebon yang dipimpin langsung oleh putra
dan cucu sang nalendra sendiri.
Pada
masa itu hubungan antara penguasa Pajajaran dengan putra serta cucunya
ya itu Pangeran Cakra buana dan Syarif Hidayatulloh sedang memanas karna
Cirebon mendeklarasikan kemerdekaan wilayahnya dengan melepaskan
segala ikatan politik pemerintahan serta membebaskan cirebon dari
kewajiban mengirim upeti ke Pajajaran yang membuat gusar penguasa
Pajajaran yang notabene adalah ayah dan kakek penguasa Cirebon.
Alasan
Cirebon memisahkan diri dari kekuasaan Pajajran karna sistim iklim
politik yang di terapkan Syarif Hidayatulloh sangat berbeda dengan apa
yang diterapkan Pajajaran,karna Cirebon mutlak dalam menjalankan roda
pemerintahanya dengan menerapkan syareat Islam hal ini terjadi karna
kedua penguasa dua wilayah tersebut berbeda keyakinan.
Dalam
menghadapi Cirebon yang saat itu di pandang oleh pajajaran adalah sikap
pembangkangan terhadap kekuasaan Pajajaran padahal Cirebon mutlak masuk
wilayah Pajajaran,berbagai cara di tempuh untuk mengingatkan Cirebon
dengan mengirimkan beberapa tliksandi ke wilayah cirebon dengan tujuan
agar Cirerbon segera merubah sikapnya agar tidak terjadi hal hal yang
tidak di inginkan karna bagaimanapun Syarif Hidayatulloh cucu penguasa
Pajajaran yang terlahir dari Dewi Rara Santang yang bersuamikan petinggi
Mesir.Juga Pangeran Cakrabuana uwaknya Syarif Hidayatulloh masih dalam
kategori putra mahkota Pajajaran.
Minggu, 11 Mei 2014
Tugu Kujang Pusaka Kampung Naga
Masyarakat Kampung Naga di Desa Neglasari Kec Salawu Kab Tasikmalaya akhirnya menjadi saksi diresmikannya Tugu Kujang Pusaka. Peresmian tersebut sekaligus mengukuhkan tugu sebagai yang terbesar di dunia saat ini. Bangunan tugu tersebut selain menjadi yang terbesar, juga menjadi lambang kuatnya budaya sunda yang ada di Jawa Barat. Kujang memiliki makna yang sangat berarti bagi masyarakat sunda, senjata kujang di masa lalu adalah senjata khas dan menjadi andalan <I>urang<I> sunda dalam memperkuat pertahanan diri saat bertempur.
Besarnya tugu tersebut terlihat dari bangunan kujang yang menjulang tinggi.Tingginya mencapai 3 meter. Kujang raksasa tersebut ditopang oleh sebuah bangunan persegiempat yang terbuat dari beton, kujang raksasa tersebut dibuat dan ditempa oleh 40 empu yang biasa membuat kujang. Selain itu, yang membuat kujang tersebut istimewa, karena bahan baku pembuatannya
Besarnya tugu tersebut terlihat dari bangunan kujang yang menjulang tinggi.Tingginya mencapai 3 meter. Kujang raksasa tersebut ditopang oleh sebuah bangunan persegiempat yang terbuat dari beton, kujang raksasa tersebut dibuat dan ditempa oleh 40 empu yang biasa membuat kujang. Selain itu, yang membuat kujang tersebut istimewa, karena bahan baku pembuatannya
Jumat, 18 April 2014
Kabuyutan Galunggung
![]() |
Galunggung pada sa'at meletus (bitu) |
Jika masyarakat Arabia mengenal Mekkah dan Yerusalem sebagai wilayah keramat, maka di tatar Sunda orang mengenal Galunggung sebagai sebuah kabuyutan. Di Mekkah terdapat 'maqom' (bekas petilasan) Ibrahim, maka di Galunggung terdapat 'sanghyang tapak Parahyangan' (bekas petilasan para leluhur awal). Seorang sesepuh bernama Aki Anang alias Raden Anang Daryan Jayadikusumah (1926 -- 2000), pemimpin kelompok kebatinan 'jati Sunda' yang juga keturunan Batara di Galunggung, pernah menuturkan berita turun-temurun kurang lebih sebagai berikut : Bahwasanya pada jaman yang telah lampau sekali, tatar Sunda adalah daerah perairan yang hanya terdapat satu daratan yang tidak terlalu luas (jaman air). Daerah tertinggi dari daratan itu adalah puncak dari sebuah gunung yang kini disebut Galunggung. Pada jaman itu puncak Galunggung adalah daratan tertinggi di tatar Sunda. Pada hari yang diberkahi, tibalah sebuah perahu besar yang memuat banyak sekali manusia dan hewan peliharaan. Sebagian orang-orang perahu itu turun dan tinggal menetap membangun komunitas manusia yang baru. Itulah nenek moyang manusia Sunda sekarang, dan menjadikan Galunggung sebagai sebuah kabuyutan atau 'sanghyang tapak Parahyangan'.
Senin, 14 April 2014
Uga Wangsit Siliwangi (Bahasa sunda)
![]() |
Maung Siliwangi |
Carita Pantun Ngahiangna Pajajaran
Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!
Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”
Langganan:
Postingan
(
Atom
)